Jawaban Soal Apakah Keunikan Tari Lenggang Nyai, Materi Belajar dari Rumah untuk SMP di TVRI

| | 0 Comments

Simak jawaban untuk tiga pertanyaan materi Belajar dari Rumah di TVRI untuk SMP soal Tari Lenggang Nyai. Pada Rabu (22/4/2020) hari ini, siswa SMP mempelajari Tari Lenggang Nyai dalam program Pelangi Nusantara. Ada tiga pertanyaan yang diberikan pada materi Belajar dari Rumah untuk siswa SMP.

1. Apakah keunikan Tari Lenggang Nyai? 2. Apakah perbedaan pola lantai tari tradisional dan tari kreasi? 3. Ceritakan sinopsis dari Tari Lenggang Nyai?

Kamu masih punya waktu untuk menjawab tiga pertanyaan ini. Jika sudah selesai, silakan cocokkan jawabanmu dengan jawaban di bawah ini. Jawab:

Keunikan Tari Lenggang Nyai adalah perpaduan unsur budaya China dan Betawi dalam busana yang dikenakan. Biasanya busana penari Lenggang Nyai menggunakan warna terang. Misalnya warna hijau terang dan merah terang.

Selain itu, pada bagian kepala dihiasi dengan hiasan seperti mahkota yang identik dengan budaya China. Pada pertunjukan, tarian ini juga diiringi dengan musik tradisional Betawi, yaitu Gambang Kromong. Jawab:

Pola lantai pada tari tradisional berdasarkan pola yang sudah ada dari dulunya. Sementara pada tari kreasi baru pola berdasarkan pola yang sudah ada atau juga dapat diubah. Pola lantai tradisional adalah tarian yang menggunakan pola lantai mudah, tapi kuat.

Sementara tari kreasi adalah tari yang terdiri dari gabungan tari yang dibuat oleh kita sendiri. Jawab: Tari Lenggang Nyai adalah satu di antara tarian khas Jakarta yang diambil dari sebuah cerita rakyat.

Banyak pesan dan makna yang ingin disampaikan melalui tarian ini, terutama pesan mengenai kebebasan wanita. Tari ini pun seringkali ditampilkan dalam berbagai acara di Jakarta. Nama Tari Lenggang Nyai berasal dari kata “lenggang” yang berarti “melengak – lengok” dan kata “nyai” yang diambil dari cerita Nyai Dasimah.

Menurut sejarah, Tari Lenggang Nyai diciptakan seorang seniman tari dari Yogyakarta bernama Wiwik Widiastuti. Diketahui, Belajar dari Rumah adalah program Kemendikbud dengan menggandeng TVRI sebagai media penayangannya. Untuk sementara, program Belajar dari Rumah dimulai pada Senin (13/4/2020) dan akan berjalan selama tiga bulan hingga Juli 2020.

Program ini untuk membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet, baik karena tantangan ekonomi maupun letak geografis. Direktur Jenderal Kebudayaan (Dirjenbud), Hilmar Farid menjelaskan, materi program Belajar dari Rumah diambil dari berbagai sumber. Sebagian besar materi sudah diproduksi Kemendikbud melalui Televisi Edukasi (TVE) maupun produksi dari pihak lain.

Dicontohkan sumber materi dari luar Kemendikbud, yakni Jalan Sesama untuk jenjang PAUD. Kemudian, terkait program kebudayaan, Hilmar menjelaskan pada Sabtu dan Minggu, terdapat durasi tiga jam khusus untuk program program kebudayaan. Antara lain gelar wicara (talkshow), podcast, kesenian, dan magazine tentang perkembangan budaya dari seluruh Indonesia.

Sementara pada malam hari akan ditayangkan film Indonesia pilihan dari berbagai genre seperti film anak, drama, dan dokumenter. Dikutip dari situs Kemendikbud, kementerian yang dipimpin Nadiem Makarim itu akan menyiapkan sekitar 720 episode untuk penayangan program Belajar dari Rumah selama 90 hari ke depan di TVRI. "Saat ini Kemendikbud sudah menyiapkan tayangan untuk dua minggu pertama, sambil memproduksi untuk tayangan di minggu minggu berikutnya," kata Hilmar.

Kunci jawaban ini hanya sekadar pegangan untuk orangtua mengoreksi jawaban anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *