Covid-19 Dijuluki Penyakit 1000 Wajah karena Gejala yang Semakin Beragam

| | 0 Comments

Di seluruh dunia, jumlah yang positif terjangkit virus corona sudah mencapai 1 juta lebih, sementara jumlah yang korban tewas sudah ratusan ribu dan diperkirakan akan terus bertambah. Virus corona ini benar benar baru, tak banyak yang kita ketahui tentangnya. Gejala yang dialami pengidapnya asaja bisa bervariasi. Mulai dari demam hingga batuk batuk. Menurut WHO gejala yang paling sering dilaporkan, termasuk demam, batuk kering, sesak napas, dan sebagian besar pasien (80%) mengalami mild symptoms/illness, alias gejala atau penyakit ringan. Meski sebagian besar kasusnya ringan, tetapi dapat berakibat fatal.

Masih data dari WHO, sekitar 14% mengalami penyakit parah, dan 5% sakit kritis. Laporan WHO menunjukkan bahwa keparahan penyakit dikaitkan dengan usia (> 60 tahun) dan penyakit komorbid atau mengidap penyakit kronis. Contohnya, penyakit jantung, paru paru, atau gagal ginjal. Kondisi ini tentu memerlukan perawatan medis segera di rumah sakit, tak sekadar karantina mandiri di rumah. Singkat kata, perlu di rawat di rumah sakit, bukannya di rumah. Perlu dicatat bahwa gejala virus corona beragam meskipun awalnya WHO mengatakan gejala penyakit ini boleh dibilang hampir serupa dengan flu, tapi ternyata semakin ke sini, banyak gejala lain yang diperlihatkan.

Pakar dan penulis kesehatan dr. Handrawan Nadesul di instagramnya malah menyebut penyakit Covid 19 yang disebabkan oleh virus corona dijuluki The 1000 Faces Disease, atau penyakit 1000 muka . Ini karena saking banyaknya manifestasinya, bukan hanya satu entitas. Atau sama sekali tanpa gejala nyata. Menurutnya, gejala Covid 19 yang paling khas juga tidak selalu nyata. Beberapa gejala yang disebutkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Report of the WHO China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (Covid 19) antara lain; demam (87,9%), batuk kering(67,7%), kelelahan ekstrem (38.1%), produksi dahak (33,4%), sesak napas (18,6%), sakit tenggorokan (13,9%) sakit kepala (13,6%) dan hidung tersumbat (4,8%).

Namun, seiring penyebaran virus dan bertambahnya pasien positif, temuan akan gejala gejala lainpun terungkap, seperti diare dan lebih sering kencing, muntah muntah, nyeri pada testis, mata merah (konjungtivitis), dan yang paling anyar adalah muncul ruam kulit, kulit kemerahan,dag gatal gatal. Masyarakat perlu hati hati juga karena banyak juga penyadang positif Covid 19 yang tanpa gejala alias terlihat sehat, padahal mereka bisa menularkan virusnya pada orang lain. Menurut ahli di Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat (AS), gejala dari Covid 19 bisa muncul dalam kurun waktu 2–14 hari setelah tubuh terpapar virus.

Dari sana, durasi lamanya penyakit yang diidap tergantung pada beberapa faktor.Jika seseorang memiliki kasus yang ringan yang (80% data dari WHO), ahli di CDC mengatakan bahwa seseorang kemungkinan akan mengalami gejala selama beberapa hari. Mereka akan merasa lebih baik dalam seminggu atau lebih. "Banyak orang memiliki gejala selama dua minggu — beberapa lebih lama dan yang lainnya memiliki durasi yang lebih singkat," kata Richard Watkins, M.D., dokter penyakit menular dan profesor internal medicine di Northeast Ohio Medical University, AS. Namun, bagaimana bila si pasien mengalami gejala yang parah, seperti timbulnya komplikasi pneumonia? Untuk kasus ini, kemungkinan gejala akan bertahan lebih lama.

"Pasien yang sakit parah membutuhkan perawatan dan terus memiliki gejala seperti sesak napas selama enam minggu atau lebih," kata David Cenimo, M.D., seorang ahli penyakit menular dan asisten profesor kedokteran di Rutgers New Jersey Medical School, AS.(*) Artikel telah dipublikasikan GridHEALTH.id dengan judul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *